KPK Benarkan Uang Suap Untuk Menteri Imin. Tiap Pejabat wajib Upeti Rp 50 jeti/Pekan   Leave a comment


KPK Benarkan Uang Suap Untuk Menteri Imin
Sabtu, 3 Sep 2011 09:01 WIB

JAKARTA, RIMANEWS-Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi, M. Jasin, tak menampik dugaan bahwa duit Rp 1,5 miliar dari pengusaha Dharnawati diperuntukkan bagi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Namun, “Uangnya belum sampai kepada yang bersangkutan (Muhaimin Iskandar),” kata Jasin melalui pesan pendek kepada Tempo, Jumat 2 September 2011.

Dharnawati, pengusaha dari perwakilan PT Alam Raya Jaya Papua, menyerahkan duit Rp 1,5 miliar kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Transmigrasi I Nyoman Suisnaya serta Kepala Bagian Program Evaluasi dan Pelaporan Dadong Irbarelawan. Farhat Abbas, pengacara Dharnawati, mengatakan kedua pejabat tersebut hendak memberikan uang itu kepada Menteri Muhaimin. Ketiganya kini telah ditetapkan KPK sebagai tersangka. “Yang memberi dan yang membawa uang tersebut sudah ditangkap tangan, maka sangkaan pasalnya adalah percobaan penyuapan.”

Farhat mengatakan status tersangka kliennya terkait dengan upaya pemberian hadiah atau janji kepada Muhaimin Iskandar selaku Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi oleh I Nyoman Suisnaya serta Dadong Irbarelawan.

Dharnawati ditangkap pada 25 Agustus lalu di kawasan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Pada hari yang sama, KPK menahan I Nyoman Suisnaya di ruang kerjanya, di lantai 2 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kalibata, Jakarta Selatan. Dadong ditangkap di Bandar Udara Soekarno-Hatta. KPK mendapati bukti dokumen, kamera genggam, dan kardus berisi duit Rp 1,5 miliar.

Komisi antikorupsi menyangka Dharnawati melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan b subsider Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi. Ancaman pidana pasal itu paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan/atau denda sebanyak-banyaknya Rp 250 juta per orang. Pasal 13 berisi ancaman pidana penjara paling lama tiga tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150 juta.

Adapun Nyoman dan Dadong disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan b subsider Pasal 13 atau Pasal 15 atau Pasal 12-a subsider Pasal 5 ayat 2 subsider Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi.

Pengacara Dharnawati mengklaim punya bukti duit Rp 1,5 miliar akan ditujukan bagi Menteri Muhaimin. “Bukti itu berupa SMS (short massage service),” kata Farhat. Pesan pendek itu berisi permintaan duit dari I Nyoman dan Dadong. Keduanya mengirim pesan tersebut pada hari penangkapan oleh KPK terhadap ketiganya.

Komisi antikorupsi menduga pemberian uang itu untuk memuluskan program pembangunan infrastruktur kawasan transmigrasi di 19 kabupaten dan kota. Alokasi dana proyek pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan itu bernilai Rp 500 miliar. Jasin sebelumnya menyatakan KPK akan memanggil Muhaimin untuk dimintai keterangan.

Menteri Muhaimin, melalui anggota staf khususnya, Dita Indah Sari, membantah tudingan uang suap itu untuk dirinya. “Pak Menteri tak pernah kontak, bertemu, dan komunikasi, baik dengan Dharnawati maupun pihak perusahaan. Komunikasi saja tidak pernah, apalagi mau terima uang,” kata Dita saat dihubungi Kamis pekan lalu.

Muhaimin pernah menegaskan siap memenuhi rencana panggilan oleh KPK. “Ya, semua saya perintahkan untuk memberi keterbukaan pengusutan apa pun. Kami akan sangat terbuka,” katanya
http://www.rimanews.com/read/2011090…k-menteri-imin

Sepekan, Pejabat Kemenakertrans Setor Upeti Rp50 Juta
Muhaimin Sebut Tuduhan Salah Alamat
Senin, 05 September 2011 , 07:13:00

JAKARTA – Dugaan keterlibatan Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam kasus suap di tubuh kementeriannya menguat. Kali ini muncul kabar, setiap pekannya, para pejabat eleson I dan II di Kemenakertrans diminta untuk menyetor upeti Rp 50 juta kepada politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

“Itu setoran rutin. Tentu saja mereka sangat terbebani,” kata seorang sumber Jawa Pos, Minggu (4/9). Awalnya, sumber tersebut enggan menyebut berapa besaran uang yang diberikan kepada Muhaimin. Setelah didesak, akhirnya dia mengaku bahwa rata-rata para pejabat di Kemenakertrans diminta untuk menyetor Rp 50 juta setiap pekannya.

Namun, Muhaimin memilih tidak mengotori tangannya secara langsung. Artinya, dia tidak berhubungan dengan uang dan anak buah yang memiliki kewajiban untuk menyetor. Tapi, semua teknis pelaksanaan upeti itu dipegang langsung oleh tim asistennya.

“Dia (Muhaimin) memang main aman,” katanya. “Tentu saja para pejabat eselon I dan II pun bermanuver melalui berbagai macam untuk memenuhi permintaan atasannya tersebut. Karenanya, mereka tak segan-segan untuk meminta uang kepada pihak-pihak rekanan yang berhubungan baik di Kemenakertrans.

Memang, dalam kasus suap di Kemenakertrans, KPK telah menyatakan bahwa pihaknya memiliki rekaman pembicaraan antara Sesditjen “Pembangunan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi (P2KT) I Nyoman Suisnaya, Kepala Bagian Evaluasi dan Perencanaan Dadong Irbarelawan dan pihak swasta Dharnawati menyebut-nyebut nama Muhaimin.

Bahkan, dalam surat penahanan, KPK menuliskan bahwa mereka diduga kuat telah mencoba menyuap Muhaimin. Tak hanya itu, KPK juga menetapkan pasal percobaan penyuapan penyelenggara negara kepada dua tersangka pegawai kementerian.

Selain itu, Muhaimin dikenal sebagai menteri yang memiliki tim staf khusus dan asistensi dalam jumlah gendut. Yakni, staf khusus berjumlah tiga orang, selain itu dia memiliki tim asistensi yang berjumlah sembilan orang. “Bayangkan, tim asistensi digaji bukan dari APBN. Tapi, dana pribadi menteri,” katanya.

Setiap bulan, Muhaimin menggaji anggota asistensinya sebesar Rp 7,5 juta. Jadi, paling tidak setiap bulan, dia harus mengeluarkan sekitar Rp 63 juta hanya untuk menggaji orang-orang terdekatnya. “Padahal gaji menteri hanya sekitar Rp 20 jutaan,” imbuh dia.
http://www.jpnn.com/read/2011/09/05/…-Salah-Alamat-

UP-DATE
Kasus Suap Kemenakertrans?
Muhaimin: Semua Ini Masih Jauh Kaitannya dengan Saya

Selasa, 06/09/2011 15:44 WIB

Jakarta – Menakertrans Muhaimin Iskandar kembali menepis terkait dengan kasus suap yang membelit kementeriannya.

“Semua ini kan masih jauh kaitannya dengan saya. Karena saya lihat jauh sekali posisi anggaran itu. Anggaran itu ada di daerah, tender di daerah semua di daerah, apalagi kalau sudah dikaitkan dengan posisi-posisi,” kata Muhaimin Iskandar sebelum rapat paripurna di kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (6/9/2011).

Untuk membuktikan kasus itu, Muhaimin mengajak publik untuk menunggu proses hukum. “Menurut saya kita tunggu saja apa yang jadi bagian proses penegakan hukum,” katanya.

Muhaimin menjadikan kasus tersebut sebagai momentum perbaikan dan pembenahan di Kementerian Tenaga Kerja. “Justru saya jadikan momentum ini sebagai pembenahan. Kita ambil hikmahnya untuk penataan sehingga tidak terjadi lagi,” katanya.

Saat ditanya kesiapannya menjadi saksi di KPK, Muhaimin meminta agar menunggu proses di lembaga itu. “Itu sudah bolak-balik ditanyakan, kita tunggu saja proses di KPK,” katanya.

KPK menetapkan tiga tersangka kasus dugaan suap di Kemenakertransyaitu pegawai di PT Papua Alam Jaya Dharnawati, Kepala Bagian Program, Evaluasi, dan Pelaporan Dadong Irbarelawan dan Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (P2KT) I Nyoman Suisnaya.

Ketiganya ditangkap tangan pada Kamis (25/8). Dalam penangkapan tersebut KPK menyita barang bukti uang senilai Rp 1,5 miliar yang ditemukan dalam kardus durian. Uang tersebut diduga sebagai imbalan pencairan anggaran dalam APBN-P 2011 untuk pembangunan infrastruktur daerah transmigrasi di Manokwari, Papua Barat.
http://www.detiknews..com/read/2011/…ya-dengan-saya

Posted September 7, 2011 by adellabuku in Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: